Robb...
Aku datang pada-Mu dengan penuh kepasrahan
Ketika dihadapkan kepada pilihan terberat
Robb...
Beri ketetapan hati untukku
Hati yang terbaik yang sama-sama hamba & dia lihat
Hati yang bukan saja menyejukkan dalam pandanganku
Tapi hati yang telah Kau lihat sampai menembus relung kalbunya...
Allah yang Maha Kuasa,
Maha melihat masa depan,
Maha mengetahui yang akan terjadi
Engkau jua yang mengetahui keinginan terdalam hatiku
Ya Allah...
Jika mendambanya adalah kesalahan
dan merindunya adalah kekeliruan
Tolong jangan biarkan hati ini terbuai dalam keindahan fatamorgana semu...
Jika kesempurnaannya bukan untukku...
Tolong bawa jauh dari relung hati...
Hapuskan khayalan keindahan tentangnya
dan jangan biarkan aku terlena dalam keindahannya...
Gantikan aku dengan kesempurnaan yang sebenarnya untuk dia
Tapi Tuhan...
Jika kesempurnaanku adalah bersamanya
Beri aku kekuatan menentukan pilihan
Beri aku kesabaran dalam menjalani proses menggapainya
Jika dia memang untukku...
Jangan biarkan aku menyerah & terpuruk dalam belenggu masa lalu...
Smoga Kau ridhoi kami untuk bersatu
Mengarungi sisa umur...
Menapaki jalan kearah-Mu...
Dan melukis keindahan untuk dunia dan akhirat kami...
Tolong beri kesabaran yang penuh...
dalam melalui detik-detik waktu yang berjalan... Amien......
Senin, 26 Januari 2009
Cerita Cinta
. . . Karena asyik berdansa, dan pada saat yang bersamaan Cenderella sempat berkenalan dengan sang pangeran, tak lama kemudian Cenderella pun lupa akan janjinya. Yaitu, dia harus pulang ke rumah sebelum pukul 12 malam. setelah sadar bahwa dia telah melanggar janjinya, Cenderella pun bergegas pulang.Alkisah, di suatu pulau kecil tinggallah berbagai benda abstrak ada CINTA, kesedihan, kegembiraan, kekayaan, kecantikan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu.
Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. CINTA sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tidak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air semakin naik membasahi kakinya.
Tak lama CINTA melihat kekayaan sedang mengayuh perahu, “Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!,” teriak CINTA “Aduh! Maaf, CINTA!,” kata kekayaan “Aku tak dapat membawamu serta nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini.” Lalu kekayaan cepat-cepat pergi mengayuh perahunya. CINTA sedih sekali, namun kemudian dilihatnya kegembiraan lewat dengan perahunya. “Kegembiraan! Tolong aku!,” teriak CINTA. Namun kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak dapat mendengar teriakan CINTA. Air semakin tinggi membasahi CINTA sampai ke pinggang dan CINTA semakin panik.
Tak lama lewatlah kecantikan “Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!,” teriak CINTA “Wah, CINTA kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu pergi. Nanti kau mengotori perahuku yang indah ini,” sahut kecantikan. CINTA sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itulah lewat kesedihan “Oh kesedihan, bawlah aku bersamamu!,” kata CINTA. “Maaf CINTA. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja..,” kata kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. CINTA putus asa.
Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara “CINTA! Mari cepat naik ke perahuku!” CINTA menoleh ke arah suara itu dan cepat-cepat naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. Di pulau terdekat, CINTA turun dan perahu itu langsung pergi lagi. Pada saat itu barulah CINTA sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa yang menolongnya. CINTA segera bertanya pada penduduk pulau itu. “Yang tadi adalah WAKTU,” kata penduduk itu “Tapi, mengapa ia menyelamatkan aku? Aku tidak mengenalinya. Bahkan teman-temanku yang mengenalku pun enggan menolong” tanya CINTA heran “Sebab……HANYA WAKTULAH YANG TAHU BERAPA NILAI SESUNGGUHNYA DARI CINTA ITU”
Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. CINTA sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tidak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air semakin naik membasahi kakinya.
Tak lama CINTA melihat kekayaan sedang mengayuh perahu, “Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!,” teriak CINTA “Aduh! Maaf, CINTA!,” kata kekayaan “Aku tak dapat membawamu serta nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini.” Lalu kekayaan cepat-cepat pergi mengayuh perahunya. CINTA sedih sekali, namun kemudian dilihatnya kegembiraan lewat dengan perahunya. “Kegembiraan! Tolong aku!,” teriak CINTA. Namun kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak dapat mendengar teriakan CINTA. Air semakin tinggi membasahi CINTA sampai ke pinggang dan CINTA semakin panik.
Tak lama lewatlah kecantikan “Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!,” teriak CINTA “Wah, CINTA kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu pergi. Nanti kau mengotori perahuku yang indah ini,” sahut kecantikan. CINTA sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itulah lewat kesedihan “Oh kesedihan, bawlah aku bersamamu!,” kata CINTA. “Maaf CINTA. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja..,” kata kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. CINTA putus asa.
Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara “CINTA! Mari cepat naik ke perahuku!” CINTA menoleh ke arah suara itu dan cepat-cepat naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. Di pulau terdekat, CINTA turun dan perahu itu langsung pergi lagi. Pada saat itu barulah CINTA sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa yang menolongnya. CINTA segera bertanya pada penduduk pulau itu. “Yang tadi adalah WAKTU,” kata penduduk itu “Tapi, mengapa ia menyelamatkan aku? Aku tidak mengenalinya. Bahkan teman-temanku yang mengenalku pun enggan menolong” tanya CINTA heran “Sebab……HANYA WAKTULAH YANG TAHU BERAPA NILAI SESUNGGUHNYA DARI CINTA ITU”
Implementasi Sistem Akuntansi Keuangan Daerah:Revolusi Sistem Tanpa Imbangan
Salah satu masalah mendasar yang kini paling nyata dihadapi oleh banyak instansi pemerintah, baik di pusat maupun daerah, adalah kelangkaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kompetensi memadai untuk menyelenggarakan administrasi keuangan negara/daerah. Temuan audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat tahun 2005 jelas menyebutkan bahwa salah satu kelemahan yang ditemukan adalah belum optimalnya tenaga-tenaga yang berlatar belakang akuntansi di pemerintahan. Kebanyakan sarjana akuntansi yang bekerja di pemerintahan menempati posisi sebagai auditor (terbanyak di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan), dan sebagian lainnya di Departemen Keuangan. Sementara itu, di instansi pemerintah dan lembaga negara lainnya, termasuk juga di pemerintah daerah, tidak banyak ditemukan sarjana akuntansi.
Jika ditelaah, ada beberapa penyebab mengapa pemenuhan kebutuhan SDM tersebut tidak dapat terlaksana dengan semestinya.
Pertama, tidak seperti akuntansi komersial, materi akuntansi pemerintahan yang diajarkan secara formal di akademi dan atau perguruan tinggi jurusan akuntansi tidaklah banyak dan intensif. Kalau boleh dibilang sangat kurang. Yang sudah terstruktur saat ini paling banyak hanyalah satu semester untuk materi akuntansi pemerintahan sebanyak dua atau tiga satuan kredit semester (SKS) dan satu semester untuk akuntansi sektor publik sebanyak dua atau tiga SKS. Biasanya, secara kasat mata dapat dilihat bahwa minat mahasiswa untuk mendalami secara serius materi akuntansi pemerintahan tidaklah setinggi ketika mendalami materi akuntansi komersial.
Kondisi di atas berhubungan erat dengan pangsa pasar lulusan sarjana atau sarjana muda akuntansi untuk bekerja di sektor komersial, yang biasanya lebih banyak tersedia, dan harus diakui menjanjikan sistem renumerasi yang jauh lebih baik dibanding jika mereka nantinya bekerja di sektor pemerintahan dengan standar gaji yang relatif lebih rendah dibanding sistem renumerasi di sektor komersial.
Pada kenyataan yang ada, mereka yang bekerja di bidang akuntansi komersial di perusahaan-perusahaan adalah juga mereka yang memang memiliki latar belakang pendidikan jurusan akuntansi. Perusahaan pengguna tenaga kerja lulusan akuntansi pun jelas tidak akan mempekerjakan mereka yang latar belakang pendidikannya bukan dari jurusan akuntansi.
Kedua, secara substansial, materi akuntansi pemerintahan sendiri tahun-tahun belakangan ini masih mencari bentuk yang pasti. Ini akibat adanya perubahan ketentuan mengenai sistem akuntansi pemerintahan atau sistem akuntansi keuangan daerah, yang seringkali justru membingungkan praktisi akuntansi keuangan di instansi pemerintah pusat dan daerah. Satu ketentuan belum tuntas bisa dilaksanakan, sudah keluar aturan baru yang kadang mengubah secara signifikan aturan yang ada sebelumnya. Akibatnya, silabus mata kuliah akuntansi pemerintahan pun belum memiliki bentuk yang pasti, dan harus selalu disesuaikan dengan perubahan yang terjadi.
Perubahan paling signifikan terkait dengan hal ini adalah perubahan revolusioner dalam sistem pencatatan transaksi keuangan pemerintah. Disebut revolusioner, lantaran perubahan sistem akuntansi yang digunakan adalah perubahan seratus delapan puluh derajat. Bayangkan, semula, sistem yang digunakan adalah sistem tata buku tunggal (single entry accounting), sekarang yang harus diterapkan adalah sistem tata buku berpasangan (double entry accounting). Jika dahulu laporan akhir dari siklus akuntansi anggaran adalah Perhitungan Anggaran Negara (PAN), maka sekarang produk yang harus dihasilkan adalah sebagaimana layaknya produk sistem akuntansi yang telah lazim dikenal, yaitu Laporan Keuangan.
Praktik sistem akuntansi berbasis tata buku tunggal sederhana, hanya mengandalkan pencatatan pada Buku Kas Umum, dan dilengkapi dengan Buku Pembantu lainnya, dan yang setiap tahun harus ditutup, dan tidak dibuka kembali, sehingga tidak ada kesinambungan antara pencatatan antara satu tahun anggaran dengan tahun anggaran berikutnya. Akibatnya, jejak transaksi dan akumulasi transaksi terkait hak (asset) dan kewajiban (liabilities) menjadi tidak akan dapat dideteksi secara cepat. Atau, dengan kata lain, jika harus ditanya, berapa nilai kekayaan pemerintah (atau negara) pada satu saat tertentu, maka jawabannya hanyalah gelengan kepala semata.
Pencatatan dengan menggunakan Buku Kas Umum dan buku pembantunya adalah pencatatan dengan metode basis kas (cash basis). Tidak ada pencatatan lain untuk mengakui adanya hak dan kewajiban yang sudah timbul dari suatu transaksi tertentu, misalnya adanya piutang pajak, persediaan, dan bahkan juga tidak ada catatan memadai mengenai aset tetap yang dibeli, selain hanya ada semacam daftar inventaris.
Semantara itu, praktik sistem akuntansi berbasis tata buku berpasangan telah sangat lekat dikenal dalam keseharian oleh para praktisi keuangan dan akuntansi. Sistem ini mampu menghasilkan laporan keuangan, yang terdiri dari neraca, laporan laba rugi (atau laporan realisasi anggaran dalam sistem akuntansi pemerintahan), laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan. Pencatatan transaksi menggunakan buku-buku besar dan buku-buku pembantu yang banyaknya disesuaikan dengan perkiraan yang dibutuhkan. Jadi, jelas lebih dari sekedar adanya Buku Kas Umum.
Ketiga, secara ideal saat ini yang diinginkan adalah bahwa laporan keuangan pemerintah daerah yang disusun oleh Biro Keuangan merupakan konsolidasi dari laporan keuangan yang disusun oleh masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Jumlah SKPD yang ada di tiap daerah beragam, namun diperkirakan rata-rata sekitar 30 SKPD. SKPD sebanyak itulah yang juga nantinya harus menyusun laporan keuangan. Ini lebih berat untuk dipenuhi secara ideal, karena keberadaan SKPD yang cukup banyak mengharuskan adanya SDM di tiap-tiap SKPD yang memiliki kompetensi memadai untuk melakukan pencatatan transaksi keuangan berdasarkan standar akuntansi yang telah ditetapkan. Jika di Biro Keuangan tidak banyak ditemukan SDM dengan latar belakang ilmu akuntansi, maka di tiap SKPD jelas keadaannya akan lebih parah lagi.
Artinya, meski pada akhirnya laporan keuangan berhasil disusun, laporan keuangan tersebut disusun oleh mereka yang sebenarnya tidak memiliki kompetensi yang dibutuhkan sebagai tenaga praktisi akuntansi. Sejauh ini, memang sepertinya masalah teratasi karena secara umum pemerintah daerah yang ada telah mampu menyusun laporan keuangan, baik dengan bantuan sistem akuntansi terkomputerisasi yang dibuat oleh konsultan. Bantuan lainnya bisa diperoleh dari bantuan sistem dan arahan dari lembaga pemerintah lainnya, seperti Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Departemen Keuangan maupun Departemen Dalam Negeri, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Hanya saja, permasalahannya kembali berpulang pada pertanyaan mendasar: apakah kita dapat memperoleh keyakinan yang memadai bahwa laporan keuangan telah memenuhi standar yang ditetapkan, kalau ia dihasilkan dari proses yang ditangani oleh SDM yang tidak kompeten di bidangnya? Sebuah pertanyaan sederhana, namun memerlukan perenungan serius dan obyektif, bukan sekedar ada pembenaran bahwa laporan keuangan toh tetap dapat diterbitkan kendati tidak ada SDM yang memenuhi kualitas kompetensi yang dibutuhkan.
Rekrutmen SDM
Salah satu pertimbangan dalam rekrutmen pegawai untuk menutup kekurangan yang ada selama ini adalah bahwa rekrutmen untuk tenaga keuangan dan akuntansi haruslah mereka yang berasal dari disiplin akuntansi. Celakanya, tidak banyak akademi atau univesitas di daerah yang memiliki jurusan akuntansi, apalagi di daerah setingkat kabupaten atau kota yang jauh dari ibukota provinsi.
Jika dihitung secara kasar, maka kebutuhan tenaga SDM di pemerintah daerah yang berlatar belakang akuntansi adalah sekurang-kurangnya 14.190 orang. Jumlah ini merupakan perkalian jumlah pemerintah daerah sekitar 440 pemerintah kabupaten/kota dan 33 pemerintah provinsi, dengan masing-masing memiliki sekitar 30 SKPD. Itu untuk pemenuhan SDM yang melaksanakan akuntansi keuangan, belum termasuk SDM yang akan melakukan pemeriksaan dan reviu terhadap laporan keuangan yang diterbitkan oleh pemerintah daerah tersebut. Itu juga belum termasuk kebutuhan SDM di tingkat pemerintah pusat, terutama di departeman atau lembaga negara lain.
Beberapa waktu belakangan ini, beberapa pemerintah daerah memang telah secara intensif mencoba menutup kebutuhan SDM berlatar belakang akuntansi dengan melakukan kerjasama dengan universitas atau akademi tertentu. Salah satu yang intens membuka kelas khusus jurusan akuntansi untuk beberapa pemerintah daerah tertentu adalah Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Pemerintah daerah yang telah membuka kelas pendidikan khusus D3 akuntansi bekerjasama dengan STAN adalah Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Pemerintah Provinsi Papua, Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Aceh, dan beberapa pemerintah daerah lainnya.
Program ini memang cukup efektif, karena dalam waktu satu atau dua tahun dapat tersedia beberapa puluh tenaga akuntansi dan keuangan. Namun, karena tingkat kebutuhan yang tinggi, program ini bisa diimbuhi dengan program rekrutmen langsung tenaga SDM dari lulusan akademi atau universitas dengan jurusan akuntansi dan keuangan. Hanya saja, jika masalah renumerasi memang menjadi kendala ketertarikan SDM dimaksud, pemerintah daerah harus berusaha menciptakan sistem renumerasi yang menarik agar mereka menjadi tertarik dan mengikuti proses rekrutmen yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Pemerintah daerah sudah waktunya melakukan rekrutmen tenaga SDM berdasarkan kebutuhan nyata, dan tidak asal rekrut. Itu berarti pemerintah daerah yang merekrut tenaga yang memiliki kualifikasi dan kompetensi sesuai dengan kebutuhan yang nyata.
Di lain pihak, Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada secara khusus telah membuka jurusan akuntansi sektor publik, yang beratan materi mata kuliah adalah pada akuntansi pemerintahan. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah mereka nantinya bersedia bekerja pada sektor pemerintahan, atau apakah pemerintah daerah segera membuka proses rekrutmen khusus untuk memenuhi kebutuhan SDM berlatar belakang akuntansi dan keuangan.
Pada saat bersamaan, pengembangan kompetensi SDM dimaksud juga harus terus dilakukan, karena nyata bahwa ketentuan-ketentuan terkait dengan pengelolaan keuangan negara/daerah seringkali berubah, sehingga senantiasa memerlukan pemerkayaan (enrichment) dan perluasan (enlargement) kapasitas dan kapabilitas SDM pemerintah daerah di bidang akuntansi dan keuangan.
Reviu Laporan Keuangan
Di pihak lain, ketentuan yang ada juga mengharuskan bahwa laporan keuangan yang disusun harus direviu terlebih dahulu oleh Auditor Internal sebelum ditandatangani oleh Kepala Daerah. Internal auditor yang dimiliki oleh pemerintah daerah, yang di tingkat provinsi adalah Badan Pengawas Provinsi, di tingkat kabupaten/kota adalah Badan Pengawas Kabupaten/Kota. Sayangnya, permasalahan yang sama, yaitu masalah SDM yang kompeten, juga menjadi ciri yang perlu perhatian khusus. Kebanyakan auditor yang ada berlatar belakang selain akuntansi dan keuangan. Implikasinya jelas bahwa para auditor tersebut, secara profesi, tidak memiliki kompetensi yang memadai untuk bisa melakukan reviu laporan keuangan.
Standar reviu yang disusun oleh Ikatan Akuntan Indonesia jelas mengharuskan bahwa karena yang direviu adalah laporan keuangan, maka mereka yang memenuhi syarat kompetensi sesuai standar profesi adalah mereka yang berpendidikan akuntansi dan keuangan. Dengan demikian, pelaksanaan reviu oleh auditor badan pengawas daerah yang bukan sarjana akuntansi tidak dibenarkan, karena dianggap tidak memenuhi standar kualitas yang ditentukan oleh profesi.
Standar Umum dalam Standar Pemeriksaan Keuangan Negara yang diterbitkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan mengatur bahwa jika terkait dengan pemeriksaan terhadap laporan keuangan, maka Pemeriksa yang melaksanakan pemeriksaan keuangan harus memiliki keahlian di bidang akuntansi dan auditing, serta memahami prinsip akuntansi yang berlaku umum yang berkaitan dengan entitas yang diperiksa. Pemeriksa yang ditugaskan untuk melaksanakan pemeriksaan keuangan secara kolektif harus memiliki keahlian yang dibutuhkan serta memiliki sertifikasi keahlian yang berterima umum. Pemeriksa yang berperan sebagai penanggung jawab pemeriksaan keuangan harus memiliki sertifikasi keahlian yang diakui secara profesional.
Sayangnya, keadaan yang tidak benar ini justru didukung oleh ketentuan perundang-undangan yang ada. Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2006, misalnya, mengharuskan bahwa di tingkat pemerintah pusat, laporan keuangan departemen/lembaga pemerintah non departemen (LPND) yang akan ditandatangani oleh Menteri/Pimpinan LPND harus terlebih dahulu direviu oleh inspektorat jenderal/inspektorat utama/inspektorat. Sedangkan di tingkat pemerintah daerah, laporan keuangan pemerintah provinsi/kabupaten/kota sebelum ditandatangani oleh kepala daerah harus direviu terlebih dahulu oleh inspektorat/badan pengawas provinsi/kabupaten/kota.
PP 8/2006 tersebut tidak secara khusus mengatur bahwa auditor yang akan mereviu haruslah memiliki latar belakang pendidikan akuntansi dan pengalaman teknis yang memadai. Artinya, siapapun auditor yang bekerja pada inspektorat jenderal/inspektorat utama/inspektorat pada departemen/LPND, dan siapapun auditor yang bekerja pada inspektorat/badan pengawas provinsi/kabupaten/kota, tanpa mendasarkan pada latar belakang pendidikan akuntansi, bisa melakukan reviu.
Jika demikian, maka standar reviu yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia dan yang ditetapkan oleh BPK dalam SPKN, yang merupakan perwujudkan ukuran kualitas hasil kerja profesi, telah dilanggar. Justifikasi yang digunakan saat ini, sepertinya, hanyalah pada perlunya reviu laporan keuangan tanpa mempedulikan ukuran kualitas hasil reviu. Kalau sudah demikian, apa yang bisa diperkuat oleh profesi? Kalau mereka yang tidak memiliki latar belakang akuntansi dan keuangan bisa melakukan reviu (dan juga audit) laporan keuangan, bisakah akuntan melakukan diagnosa terhadap penyakit yang diderita oleh seorang pasien sehabis membaca buku-buku teori kedokteran, atau bolehkah akuntan menjalankan profesi aktuaris karena sedikit memiliki pengetahuan dalam bidang tersebut?
Ini juga problem besar yang harus dibenahi oleh ikatan profesi akuntan dan pemerintah secara bersama-sama, agar jelas bagaimana sebuah ukuran kualitas kerja profesi harus ditegakkan. Fakta sudah membuktikan bahwa pengelolaan keuangan negara/daerah, termasuk di dalamnya mekanisme pencatatan dan pelaporan transaksi keuangan negara yang dilaksanakan oleh aparatur yang tidak memiliki kompetensi dalam bidang akuntansi dan keuangan, menghasilkan informasi yang tidak memadai bagi pengambilan keputusan.
(tulisan di atas telah dimuat dalam majalah Akuntan Indonesia, edisi nomor 5/tahun I/januari 2008)
Jika ditelaah, ada beberapa penyebab mengapa pemenuhan kebutuhan SDM tersebut tidak dapat terlaksana dengan semestinya.
Pertama, tidak seperti akuntansi komersial, materi akuntansi pemerintahan yang diajarkan secara formal di akademi dan atau perguruan tinggi jurusan akuntansi tidaklah banyak dan intensif. Kalau boleh dibilang sangat kurang. Yang sudah terstruktur saat ini paling banyak hanyalah satu semester untuk materi akuntansi pemerintahan sebanyak dua atau tiga satuan kredit semester (SKS) dan satu semester untuk akuntansi sektor publik sebanyak dua atau tiga SKS. Biasanya, secara kasat mata dapat dilihat bahwa minat mahasiswa untuk mendalami secara serius materi akuntansi pemerintahan tidaklah setinggi ketika mendalami materi akuntansi komersial.
Kondisi di atas berhubungan erat dengan pangsa pasar lulusan sarjana atau sarjana muda akuntansi untuk bekerja di sektor komersial, yang biasanya lebih banyak tersedia, dan harus diakui menjanjikan sistem renumerasi yang jauh lebih baik dibanding jika mereka nantinya bekerja di sektor pemerintahan dengan standar gaji yang relatif lebih rendah dibanding sistem renumerasi di sektor komersial.
Pada kenyataan yang ada, mereka yang bekerja di bidang akuntansi komersial di perusahaan-perusahaan adalah juga mereka yang memang memiliki latar belakang pendidikan jurusan akuntansi. Perusahaan pengguna tenaga kerja lulusan akuntansi pun jelas tidak akan mempekerjakan mereka yang latar belakang pendidikannya bukan dari jurusan akuntansi.
Kedua, secara substansial, materi akuntansi pemerintahan sendiri tahun-tahun belakangan ini masih mencari bentuk yang pasti. Ini akibat adanya perubahan ketentuan mengenai sistem akuntansi pemerintahan atau sistem akuntansi keuangan daerah, yang seringkali justru membingungkan praktisi akuntansi keuangan di instansi pemerintah pusat dan daerah. Satu ketentuan belum tuntas bisa dilaksanakan, sudah keluar aturan baru yang kadang mengubah secara signifikan aturan yang ada sebelumnya. Akibatnya, silabus mata kuliah akuntansi pemerintahan pun belum memiliki bentuk yang pasti, dan harus selalu disesuaikan dengan perubahan yang terjadi.
Perubahan paling signifikan terkait dengan hal ini adalah perubahan revolusioner dalam sistem pencatatan transaksi keuangan pemerintah. Disebut revolusioner, lantaran perubahan sistem akuntansi yang digunakan adalah perubahan seratus delapan puluh derajat. Bayangkan, semula, sistem yang digunakan adalah sistem tata buku tunggal (single entry accounting), sekarang yang harus diterapkan adalah sistem tata buku berpasangan (double entry accounting). Jika dahulu laporan akhir dari siklus akuntansi anggaran adalah Perhitungan Anggaran Negara (PAN), maka sekarang produk yang harus dihasilkan adalah sebagaimana layaknya produk sistem akuntansi yang telah lazim dikenal, yaitu Laporan Keuangan.
Praktik sistem akuntansi berbasis tata buku tunggal sederhana, hanya mengandalkan pencatatan pada Buku Kas Umum, dan dilengkapi dengan Buku Pembantu lainnya, dan yang setiap tahun harus ditutup, dan tidak dibuka kembali, sehingga tidak ada kesinambungan antara pencatatan antara satu tahun anggaran dengan tahun anggaran berikutnya. Akibatnya, jejak transaksi dan akumulasi transaksi terkait hak (asset) dan kewajiban (liabilities) menjadi tidak akan dapat dideteksi secara cepat. Atau, dengan kata lain, jika harus ditanya, berapa nilai kekayaan pemerintah (atau negara) pada satu saat tertentu, maka jawabannya hanyalah gelengan kepala semata.
Pencatatan dengan menggunakan Buku Kas Umum dan buku pembantunya adalah pencatatan dengan metode basis kas (cash basis). Tidak ada pencatatan lain untuk mengakui adanya hak dan kewajiban yang sudah timbul dari suatu transaksi tertentu, misalnya adanya piutang pajak, persediaan, dan bahkan juga tidak ada catatan memadai mengenai aset tetap yang dibeli, selain hanya ada semacam daftar inventaris.
Semantara itu, praktik sistem akuntansi berbasis tata buku berpasangan telah sangat lekat dikenal dalam keseharian oleh para praktisi keuangan dan akuntansi. Sistem ini mampu menghasilkan laporan keuangan, yang terdiri dari neraca, laporan laba rugi (atau laporan realisasi anggaran dalam sistem akuntansi pemerintahan), laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan. Pencatatan transaksi menggunakan buku-buku besar dan buku-buku pembantu yang banyaknya disesuaikan dengan perkiraan yang dibutuhkan. Jadi, jelas lebih dari sekedar adanya Buku Kas Umum.
Ketiga, secara ideal saat ini yang diinginkan adalah bahwa laporan keuangan pemerintah daerah yang disusun oleh Biro Keuangan merupakan konsolidasi dari laporan keuangan yang disusun oleh masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Jumlah SKPD yang ada di tiap daerah beragam, namun diperkirakan rata-rata sekitar 30 SKPD. SKPD sebanyak itulah yang juga nantinya harus menyusun laporan keuangan. Ini lebih berat untuk dipenuhi secara ideal, karena keberadaan SKPD yang cukup banyak mengharuskan adanya SDM di tiap-tiap SKPD yang memiliki kompetensi memadai untuk melakukan pencatatan transaksi keuangan berdasarkan standar akuntansi yang telah ditetapkan. Jika di Biro Keuangan tidak banyak ditemukan SDM dengan latar belakang ilmu akuntansi, maka di tiap SKPD jelas keadaannya akan lebih parah lagi.
Artinya, meski pada akhirnya laporan keuangan berhasil disusun, laporan keuangan tersebut disusun oleh mereka yang sebenarnya tidak memiliki kompetensi yang dibutuhkan sebagai tenaga praktisi akuntansi. Sejauh ini, memang sepertinya masalah teratasi karena secara umum pemerintah daerah yang ada telah mampu menyusun laporan keuangan, baik dengan bantuan sistem akuntansi terkomputerisasi yang dibuat oleh konsultan. Bantuan lainnya bisa diperoleh dari bantuan sistem dan arahan dari lembaga pemerintah lainnya, seperti Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Departemen Keuangan maupun Departemen Dalam Negeri, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Hanya saja, permasalahannya kembali berpulang pada pertanyaan mendasar: apakah kita dapat memperoleh keyakinan yang memadai bahwa laporan keuangan telah memenuhi standar yang ditetapkan, kalau ia dihasilkan dari proses yang ditangani oleh SDM yang tidak kompeten di bidangnya? Sebuah pertanyaan sederhana, namun memerlukan perenungan serius dan obyektif, bukan sekedar ada pembenaran bahwa laporan keuangan toh tetap dapat diterbitkan kendati tidak ada SDM yang memenuhi kualitas kompetensi yang dibutuhkan.
Rekrutmen SDM
Salah satu pertimbangan dalam rekrutmen pegawai untuk menutup kekurangan yang ada selama ini adalah bahwa rekrutmen untuk tenaga keuangan dan akuntansi haruslah mereka yang berasal dari disiplin akuntansi. Celakanya, tidak banyak akademi atau univesitas di daerah yang memiliki jurusan akuntansi, apalagi di daerah setingkat kabupaten atau kota yang jauh dari ibukota provinsi.
Jika dihitung secara kasar, maka kebutuhan tenaga SDM di pemerintah daerah yang berlatar belakang akuntansi adalah sekurang-kurangnya 14.190 orang. Jumlah ini merupakan perkalian jumlah pemerintah daerah sekitar 440 pemerintah kabupaten/kota dan 33 pemerintah provinsi, dengan masing-masing memiliki sekitar 30 SKPD. Itu untuk pemenuhan SDM yang melaksanakan akuntansi keuangan, belum termasuk SDM yang akan melakukan pemeriksaan dan reviu terhadap laporan keuangan yang diterbitkan oleh pemerintah daerah tersebut. Itu juga belum termasuk kebutuhan SDM di tingkat pemerintah pusat, terutama di departeman atau lembaga negara lain.
Beberapa waktu belakangan ini, beberapa pemerintah daerah memang telah secara intensif mencoba menutup kebutuhan SDM berlatar belakang akuntansi dengan melakukan kerjasama dengan universitas atau akademi tertentu. Salah satu yang intens membuka kelas khusus jurusan akuntansi untuk beberapa pemerintah daerah tertentu adalah Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Pemerintah daerah yang telah membuka kelas pendidikan khusus D3 akuntansi bekerjasama dengan STAN adalah Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Pemerintah Provinsi Papua, Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Aceh, dan beberapa pemerintah daerah lainnya.
Program ini memang cukup efektif, karena dalam waktu satu atau dua tahun dapat tersedia beberapa puluh tenaga akuntansi dan keuangan. Namun, karena tingkat kebutuhan yang tinggi, program ini bisa diimbuhi dengan program rekrutmen langsung tenaga SDM dari lulusan akademi atau universitas dengan jurusan akuntansi dan keuangan. Hanya saja, jika masalah renumerasi memang menjadi kendala ketertarikan SDM dimaksud, pemerintah daerah harus berusaha menciptakan sistem renumerasi yang menarik agar mereka menjadi tertarik dan mengikuti proses rekrutmen yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Pemerintah daerah sudah waktunya melakukan rekrutmen tenaga SDM berdasarkan kebutuhan nyata, dan tidak asal rekrut. Itu berarti pemerintah daerah yang merekrut tenaga yang memiliki kualifikasi dan kompetensi sesuai dengan kebutuhan yang nyata.
Di lain pihak, Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada secara khusus telah membuka jurusan akuntansi sektor publik, yang beratan materi mata kuliah adalah pada akuntansi pemerintahan. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah mereka nantinya bersedia bekerja pada sektor pemerintahan, atau apakah pemerintah daerah segera membuka proses rekrutmen khusus untuk memenuhi kebutuhan SDM berlatar belakang akuntansi dan keuangan.
Pada saat bersamaan, pengembangan kompetensi SDM dimaksud juga harus terus dilakukan, karena nyata bahwa ketentuan-ketentuan terkait dengan pengelolaan keuangan negara/daerah seringkali berubah, sehingga senantiasa memerlukan pemerkayaan (enrichment) dan perluasan (enlargement) kapasitas dan kapabilitas SDM pemerintah daerah di bidang akuntansi dan keuangan.
Reviu Laporan Keuangan
Di pihak lain, ketentuan yang ada juga mengharuskan bahwa laporan keuangan yang disusun harus direviu terlebih dahulu oleh Auditor Internal sebelum ditandatangani oleh Kepala Daerah. Internal auditor yang dimiliki oleh pemerintah daerah, yang di tingkat provinsi adalah Badan Pengawas Provinsi, di tingkat kabupaten/kota adalah Badan Pengawas Kabupaten/Kota. Sayangnya, permasalahan yang sama, yaitu masalah SDM yang kompeten, juga menjadi ciri yang perlu perhatian khusus. Kebanyakan auditor yang ada berlatar belakang selain akuntansi dan keuangan. Implikasinya jelas bahwa para auditor tersebut, secara profesi, tidak memiliki kompetensi yang memadai untuk bisa melakukan reviu laporan keuangan.
Standar reviu yang disusun oleh Ikatan Akuntan Indonesia jelas mengharuskan bahwa karena yang direviu adalah laporan keuangan, maka mereka yang memenuhi syarat kompetensi sesuai standar profesi adalah mereka yang berpendidikan akuntansi dan keuangan. Dengan demikian, pelaksanaan reviu oleh auditor badan pengawas daerah yang bukan sarjana akuntansi tidak dibenarkan, karena dianggap tidak memenuhi standar kualitas yang ditentukan oleh profesi.
Standar Umum dalam Standar Pemeriksaan Keuangan Negara yang diterbitkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan mengatur bahwa jika terkait dengan pemeriksaan terhadap laporan keuangan, maka Pemeriksa yang melaksanakan pemeriksaan keuangan harus memiliki keahlian di bidang akuntansi dan auditing, serta memahami prinsip akuntansi yang berlaku umum yang berkaitan dengan entitas yang diperiksa. Pemeriksa yang ditugaskan untuk melaksanakan pemeriksaan keuangan secara kolektif harus memiliki keahlian yang dibutuhkan serta memiliki sertifikasi keahlian yang berterima umum. Pemeriksa yang berperan sebagai penanggung jawab pemeriksaan keuangan harus memiliki sertifikasi keahlian yang diakui secara profesional.
Sayangnya, keadaan yang tidak benar ini justru didukung oleh ketentuan perundang-undangan yang ada. Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2006, misalnya, mengharuskan bahwa di tingkat pemerintah pusat, laporan keuangan departemen/lembaga pemerintah non departemen (LPND) yang akan ditandatangani oleh Menteri/Pimpinan LPND harus terlebih dahulu direviu oleh inspektorat jenderal/inspektorat utama/inspektorat. Sedangkan di tingkat pemerintah daerah, laporan keuangan pemerintah provinsi/kabupaten/kota sebelum ditandatangani oleh kepala daerah harus direviu terlebih dahulu oleh inspektorat/badan pengawas provinsi/kabupaten/kota.
PP 8/2006 tersebut tidak secara khusus mengatur bahwa auditor yang akan mereviu haruslah memiliki latar belakang pendidikan akuntansi dan pengalaman teknis yang memadai. Artinya, siapapun auditor yang bekerja pada inspektorat jenderal/inspektorat utama/inspektorat pada departemen/LPND, dan siapapun auditor yang bekerja pada inspektorat/badan pengawas provinsi/kabupaten/kota, tanpa mendasarkan pada latar belakang pendidikan akuntansi, bisa melakukan reviu.
Jika demikian, maka standar reviu yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia dan yang ditetapkan oleh BPK dalam SPKN, yang merupakan perwujudkan ukuran kualitas hasil kerja profesi, telah dilanggar. Justifikasi yang digunakan saat ini, sepertinya, hanyalah pada perlunya reviu laporan keuangan tanpa mempedulikan ukuran kualitas hasil reviu. Kalau sudah demikian, apa yang bisa diperkuat oleh profesi? Kalau mereka yang tidak memiliki latar belakang akuntansi dan keuangan bisa melakukan reviu (dan juga audit) laporan keuangan, bisakah akuntan melakukan diagnosa terhadap penyakit yang diderita oleh seorang pasien sehabis membaca buku-buku teori kedokteran, atau bolehkah akuntan menjalankan profesi aktuaris karena sedikit memiliki pengetahuan dalam bidang tersebut?
Ini juga problem besar yang harus dibenahi oleh ikatan profesi akuntan dan pemerintah secara bersama-sama, agar jelas bagaimana sebuah ukuran kualitas kerja profesi harus ditegakkan. Fakta sudah membuktikan bahwa pengelolaan keuangan negara/daerah, termasuk di dalamnya mekanisme pencatatan dan pelaporan transaksi keuangan negara yang dilaksanakan oleh aparatur yang tidak memiliki kompetensi dalam bidang akuntansi dan keuangan, menghasilkan informasi yang tidak memadai bagi pengambilan keputusan.
(tulisan di atas telah dimuat dalam majalah Akuntan Indonesia, edisi nomor 5/tahun I/januari 2008)
Teknik Audit Berbantuan Komputer (TABK)
Kemajuan teknologi informasi telah mengubah cara perusahaan dalam mengumpulkan data, memproses dan melaporkan informasi keuangan Oleh karena itu auditor akan banyak menemukan lingkungan dimana data tersimpan lebih banyak dalam media elektronik dibanding media kertas. Auditor harus menentukan bagaimana perusahaan menggunakan system teknologi informasi untuk menginisiasi, mencatat, memproses dan melaporkan transaksi dalam laporan keuangan.
Sebenarnya tidak ada perbedaan konsep audit yang berlaku untuk system yang kompleks dan system manual, yang berbeda hanyalah metode-metode spesifik yang cocok dengan situasi system informasi akuntansi yang ada.
Pemahaman ini diperlukan dalam rangka mendapatkan pemahaman internal control yang baik agar dapat merencanakan audit dan menentukan sifat, timing dan perluasan pengujian yang akan dilakukan.
Dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) juga ditekankan perlunya pemahaman auditor dalam pemeriksaan sebuah sistem akuntansi berbasis komputer. Teknik ini dikenal dengan Teknik Audit Berbantuan Komputer (TABK) atau Computer Assisted Audit Techniques (CAATs).
Penggunaan TABK atau CAATs akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas auditor dalam melaksanakan audit dengan memanfaatkan segala kemampuan yang dimiliki oleh komputer. Untuk itu mengkombinasikan pemahaman mengenai pentingnya keahlian audit dengan pengetahuan sistem informasi berbasis komputer akan menghasilkan peningkatan yang sangat signifikan dalam proses audit sistem informasi. Persiapan auditor sistem informasi untuk memiliki keahlian tersebut harus dipersiapkan terlebih dahulu untuk dapat melakukan tugas sebuah audit sistem informasi.
Secara umum, Teknik Audit Berbantuan Komputer (TABK) atau Computer Assisted Audit Technique Tools (CAATT) adalah setiap penggunaan teknologi informasi sebagai alat bantu dalam kegiatan audit. TABK/CAATT dapat juga didefinisikan sebagai penggunaan perangkat dan teknik untuk mengaudit aplikasi komputer serta mengambil dan menganalisa data. Dengan kata lain TABK/CAAT merupakan perangkat dan teknik yang digunakan untuk menguji (baik secara langsung maupun tidak langsung) logika internal dari suatu aplikasi komputer yang digunakan untuk mengolah data.
Dalam praktek audit, terutama auditee yang menggunakan sistem informasi berbasis komputer (kayaknya hampir semua perusahaan besar sudah Computer-based IS), auditor yang bisa mengoperasikan TABK ini memang sangat diperlukan.
Apabila auditor memilih menggunakan teknik audit berbantuan komputer, maka auditor dapat memilih pendekatan yang digunakannya, yaitu apakah untuk melakukan pengujian aplikasi ataukah melakukan pengujian substantif.
Apabila auditor memilih untuk melakukan pengujian aplikasi, maka salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah:
1. Generalized Audit Software (GAS)
Adalah pendekatan yang menggunakan suatu perangkat lunak tertentu yang dimanfaatkan untuk menyeleksi, mengakses, mengorganisasikan data untuk kepentingan pengujian substantif. Pendekatan ini memungkinkan auditor untuk mengakses dan mengambil berbagai file data ke dalam computer untuk kemudian melakukan berbagai pengujian yang diperlukan. Pendekatan ini merupakan teknik yang paling populer karena relatif lebih mudah karena tidak diperlukan kemampuan teknik komputasi yang cukup mendalam. Apabila dilihat dari sisi proses pengujian logika internal suatu aplikasi, maka teknik test data, ITF, PS dan EAM merupakan teknik-teknik pengujian logika internal aplikasi secara langsung sedangkan teknik GAS merupakan suatu teknik pengujian tidak langsung. GAS disebut dengan teknik pengujian tidak langsung karena lebih cenderung untuk mengambil output dari aplikasi untuk kemudian diolah kembali untuk diuji apakah output itu sesuai dengan kriteria pengujian yang ditentukan. Makalah ini khusus membahas penggunaan TABK/CAAT berbasis GAS yang biasa digunakan oleh Kantor Akuntan Publik, terutama Kantor Akuntan Publik Besar yang memang sangat membutuhkan penggunaan teknik ini untuk mempercepat penyelesaian pekerjaan audit mereka.
FUNGSI GENERALIZED AUDIT SOFTWARE (GAS)
Secara umum, terdapat beberapa fungsi dari GAS, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Membuat perhitungan-perhitungan dan melakukan verifikasi atas perkalian dan penjumlahan.
2. Memeriksa catatan untuk mengetahui kualitas, kelengkapan, konsistensi dan ketepatannya.
3. Mengikhtisarkan atau mengurutkan data dan melakukan analisis data, berikut mengidentifikasi urutan-urutan yang hilang
4. Memilih sampel audit secara valid.
5. Mencetak permintaan konfirmasi.
6. Membandingkan data yang diperoleh melalui prosedur audit lainnya dengan catatan perusahaan. Dapat pula dibandingkan data-data pada file yang terpisah.
7. Membuat stratifikasi data.
8. Membuat analisa-analisa statistik.
9. Pembuatan grafik dan pivot tables.
SOFTWARE-SOFTWARE GAS YANG BIASA DIGUNAKAN KAP
Ada banyak software GAS yang saat ini beredar dan digunakan oleh Kantor-Kantor Akuntan Publik di seluruh dunia. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:
1. ACL (Audit Command Language)
ACL for Windows dirancang khusus untuk menganalisa data dan menghasilkan laporan audit baik untuk pengguna biasa (common/nontechnical users) maupun pengguna ahli (expert users). Dengan menggunakan ACL, pekerjaan auditing akan jauh lebih cepat daripada proses auditing secara manual yang memerlukan waktu sampai berjam-jam bahkan sampai berhari-hari.
Dengan beberapa kemampuan ACL, analisis data akan lebih efisien dan lebih meyakinkan. Berikut ini beberapa kemampuan ACL:
• Mudah dalam penggunaan.
ACL for Windows, sesuai dengan namanya, adalah perangkat lunak (software) berbasis Windows, di mana sistem operasi Windows telah dikenal bersifat mudah digunakan (user friendly). Kemudahan ini ditunjukkan dengan pengguna hanya meng-click pada gambar-gambar tertentu (icon) untuk melakukan suatu pekerjaan, dan didukung pula dengan fasilitas Wizard untuk mendefinisikan data yang akan dianalisis.
• Built-in audit dan analisis data secara fungsional.
ACL for Windows didukung dengan kemampuan analisis untuk keperluan audit/pemeriksaan seperti: analisis statistik, menghitung total, stratifikasi, sortir, index, dan lain-lain.
• Kemampuan menangani ukuran file yang tidak terbatas.
ACL for Windows mampu menangani berbagai jenis file dengan ukuran file yang tidak terbatas. Kemampuan untuk membaca berbagai macam tipe data. ACL for Windows dapat membaca file yang berasal dari berbagai format antara lain: Flat sequential, dBase (DBF), Text (TXT), Delimited, Print, ODBC (Microsoft Access database, Oracle), Tape ( ½ inch 9 - track tapes, IBM 3480 cartridges, 8 mm tape dan 4 mm DAT).
• Kemampuan mengekspor hasil audit
ACL mempunyai kemampuan untuk mengekspor hasil audit ke berbagai macam format data antara lain: Plain Text (TXT), dBase III (DBF), Delimit (DEL), Excel (XLS), Lotus (WKS), Word (DOC), dan WordPerfect (WP).
• Pembuatan Laporan berkualitas tinggi.
ACL for Windows memiliki fasilitas lengkap untuk keperluan pembuatan laporan.
ACL for Windows dapat bekerja menggunakan database relasional modern, di samping tentu saja menggunakan sistem penyimpanan data secara tradisional. Pada sistem legacy, untuk membuat dan memproses data tanpa menggunakan program, sedangkan ACL for Windows memiliki kemampuan untuk mengakses data.
ACL for Windows dapat mengakses data dalam berbagai macam format dan pada berbagai macam tipe media penyimpanan. ACL for Windows mampu menguji output atas suatu aplikasi di mana data yang digunakan kurang meyakinkan, atau mungkin aplikasi tersebut tidak berjalan dengan benar. ACL for Windows dapat digunakan untuk keperluan View, Explore, dan menganalisa seluruh data serta membuat laporan atas hasil-hasilnya.
Sebelum melakukan download atas data, perlu dipersiapkan dulu datanya. Jika seluruh data ada pada file tertentu dan mempunyai format tertentu yang dapat dibaca langsung oleh ACL for Windows, maka transfer bisa langsung dilakukan dalam bentuk native state ke PC. Mungkin tidak perlu mentransfer seluruh data untuk file yang berukuran besar.
File output report dalam bentuk elektronik bisa diakses oleh ACL for Windows, karena hampir semua software komputer mampu menghasilkan laporan (report). ACL for Windows mampu membaca informasi yang disimpan dalam bentuk laporan tercetak. Aplikasi ini sangat berguna ketika Anda ingin mengakses data yang tersimpan dalam format database yang rumit.
Langkah pertama dalam memproses laporan sebagai data adalah dengan cara melakukan capture informasi ke dalam disket. Dalam kebanyakan lingkungan (environment) komputer mini dan mainframe, hal tersebut bisa langsung dilakukan, karena umumnya file akan di-spooled sebelum dicetak. Anda tidak perlu mencetak file terlebih dahulu, cukup meng-copy spool file-nya sebelum dihapus oleh sistem. Jika perlu men- download spooled report file, sekali lagi tanyakan kepada departemen komputer untuk meng-copy-kan file yang diperlukan ke disket, untuk selanjutnya dilakukan download atas file tersebut.
Fitur dan Kemampuan ACL Software Tools
1. Universal Data Access, yaitu dapat mengakses data dari hampir semua jenis database yang ada (DBF, XLS, Text File, report file, Oracle, SQL, DB2, AS/400 FDF, COBOL, dsb) dan semua platform (PC, minicomputer, dan mainframe).
2. Jumlah Data Besar, yaitu kemampuan dalam mengakses dan memproses data dalam jumlah yang sangat besar (hingga ratusan juta record)
3. Kecepatan Waktu Proses, kemampuannya untuk memproses dalam waktu yang singkat walapun data yang diproses dalam jumlah yang besar
4. Integritas Data, dengan kemampuan mengakses database 100% (tanpa metode sampling) serta data yang bersifat ‘Read Only’ yang dapat menjamin orisinalitas, keamanan & integritas data untuk pengolahan menjadi informasi yang bermanfaat bagi user & manajemen.
5. Automasi, pembuatan aplikasi audit yang sangat cepat dan mudah untuk melakukan Automasi Analisis Data untuk efisiensi proses kerja.
6. Multi File Process, dapat digunakan untuk menangani beberapa file sekaligus, tanpa mengganggu operasional Teknologi Informasi yang dijalankan oleh Perusahaan.
7. Log File Navigation, dilengkapi dengan log file untuk pencatatan proses analisis yang telah dilakukan sehingga menghasilkan suatu Audit Trail yang komprehensif.
8. Fungsi Analisis yang Lengkap, dilengkapi fungsi-fungsi analisis yang sangat lengkap yang dapat dengan mudah dikombinasikan dalam menghasilkan temuan-temuan yang tidak pernah terkirakan sebelumnya.
9. Pelaporan yang Handal, kemudahan untuk merancang laporan yang handal sarat informasi yang bermanfaat serta dapat dikirimkan secara otomatis via email atau integrasi ke dalam software aplikasi ‘Crystal Report’
10. IT Audit, kemudahan dalam menguji integritas data dan menganalisis data yang ada di dalam database ataupun menganalisis user-user yang telah masuk kedalam suatu jaringan/network.
Manfaat Menggunakan ACL Software Tools
Dapat membantu dalam mengAkses data baik langsung (Direct) kedalam system jaringan ataupun InDirect (tidak langsung) melalui media lain seperti softcopy dalam bentuk Teks file / Report.
Menempatkan kesalahan dan potensial “fraud”sebagai pembanding dan menganlisa file-file menurut aturan-aturan yang ada.
Mengidentifikasi kecenderungan/gejala-gejala, dapat juga menunjukan dengan tepat/sasaran pengecualian data dan menyoroti potensial area yang menjadi perhatian.
Mengidentifikasi proses perhitungan kembali dan proses Verifikasi yang benar
Mengidentifikasi persoalan sistem pengawasan dan memastikan terpenuhinya permohonan dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan
Aging dan menganalisa Account Receivable/Payable atau beberapa transaksi lain dengan menggunakan basis waktu yang sensitive
Memulihkan biaya atau pendapatan yang hilang dengan pengujian data pada data-data duplikasi pembayaran, menguji data-data nomor Invoice/Faktur yang hilang atau pelayanan yang tidak tertagih.
Menguji terhadap hubungan antara Authorisasi karyawan dengan supplier.
Melakukan proses Data Cleansing & Data Matching atau pembersihan data dari data-data duplikasi terutama dari kesalahan pengetikan oleh End-User
Dapat melaksanakan tugas pengawasan dan pemeriksaaan dengan lebih fokus, cepat, efisien dan efektif dengan lingkup yang lebih luas dan analisa lebih mendalam. Mengidentifikasi penyimpangan (Fraud Detection) dapat dilakukan dengan cepat dan akurat. Sehingga memiliki waktu lebih banyak alam menganalisa data dan pembuktian.
2. IDEA (Interactive Data Analysis Software)
Merupakan software audit yang dapat digunakan untuk membuat rekonsiliasi, investigasi kecurangan, internal/operational audit, pemindahan file, mempersiapkan laporan manajemen dan analisis-analisis lainnya, termasuk menelusuri security log.
IDEA adalah software yang powerful dan mudah dioperasikan untuk membantu akunting dan professional keuangan meningkatkan keahlian auditing, mendeteksi kecurangan, dan memenuhi dokumen-dokumen standar. Software ini memungkinkan kita untuk mengimpor data dengan cepat, menyertakan, menganalisa, mengambil sample dan mengekstrak data dari berbagai macam sumber, termasuk laporan yang dicetak dari sebuah file.
Didesain oleh Akuntan untuk Akuntan, IDEA menawarkan sebuah tampilan antar muka yang intuitif termasuk fungsi point dan klik, menu bantuan, toturial dan multi tampilan. Dengan kemampuan ukuran file yang tak terbatas, IDEA dapat mengakses dan menganalisa data yang berukuran besar dalam beberapa detik saja, membebaskan anda untuk menganjurkan manajemen dalam proyek tambahan dan memberikan analisa yang mendalam. Menurut survey, lebih separo dari 100 Kantor Akuntan Publik Besar di Amerika Serikat menggunakan IDEA untuk melakukan analisis data yang diperlukan pada saat melakukan audit.
IDEA adalah sebuah software audit yang dapat membaca data asli yang telah diimpor. Field baru dapat dibuat, walaupun data asli tidak pernah diubah. Tidak seperti Microsoft Access dan Microsoft Excel, yang memungkinkan pengguna untuk melakukan manipulasi data yang telah diimpor yang dapat mengakibatkan kerusakan data akibat pengeditan ataupun penghapusan data.
IDEA juga bekerja secara otomatis memberikan satu macam dari masukan file control keseluruhan dan statistic, yang dapat diperiksa setiap kali file tersebut digunakan. Banyaknya fitur control memberikan jaminan penggunaan sebagai kesatuan dari data yang dianalisis. Kontrol-kontrol tersebut dapat membuat formulir yang cepat, mudah untuk menghasilkan control menyeluruh menghitung record, jumlah uang ataupun total item dari field yang diseleksi ataupun seluruh file, atau beberapa jumlah yang dipertimbangkan oleh auditor.
Penambahan pengeditan field-field dapat ditambahkan pada database untuk komentar, untuk mencocokkan item-item atau untuk mengoreksi data. Anda dapat menambahkan field virtual untuk membuktikan perhitungan-perhitungan dalam sebuah database, melakukan perhitungan-perhitungan baru dan rasio-rasio dari field-field yang ada tanpa database atau untuk mengkonversikan data dari sebuah tife menjadi tife lainnya. Field-field yang dapat diedit, berupa ruang kosong utuk memasukkan komentar atau pernyataan-pernyataan yang disertakan dengan field virtual.
Statistik dapat dihasilkan dari keseluruhan nomor dan field tanggal tanpa sebuah database. Untuk setiap field numeric, nilai-nilainya seperti nilai bersih, maksimum, minimum, dan nilai rata-rata seperti jumlah debet, kredit dan zero value item yang diberikan. Untuk setiap field tanggal, statistic memberikan informasi seperti tanggal terakhir dan harian dan analisis bulanan dari jumlah setiap transaksi-transaksi yang terjadi.
Kegunaan lain bagi kontrol audit adalah IDEA secara otomatis akan menghasilkan catatan sejarah yang merekam setiap proses yang dilaksanakan oleh auditor, menunjukkan jejak audit (audit trail) atau catatan seluruh operasi yang dilakukan pada sebuah database. Informasi ini kemudian disajikan dalam sebuah daftar yang dapat dikembangkan. Sejak catatan sejarah merekam seluruh proses yang dijalankan pada masa lalu dalam sebuah data, pengguna dapat mengidentifikasi bagian-bagian dari informasi yang didapat dari data asli. Setiap pengujian atau fungsi yang dijalankan akan secara otomatis menghasilkan script/kode pemrograman, yang kemudian dapat dicopy dalam IDEAScript editor (IDEAScript adalah sebuah bahasa pemrograman yang kompatibel dengan visual basic). Kode ini dberikan kepada pengguna dengan sebuah record yang dapat dicopy secara mekanis dalam kertas kerja audit.
3. APG (Audit Program Generator)
Waktu, biaya, tenaga, tanggal penyelesaian, adalah semua elemen yang harus diperhitungkan ketika sebuah tim audit membuat perencanaan audit. Langkah pertama dalam perencanaan audit tersebut akan dipersiapkan dalam sebuah daftar perencanaan audit.
APG memungkinkan tim audit mempersiapkan daftar perencanaan audit mereka. APG memungkinkan tim audit untuk menambah, menghapus atau melakukan modifikasi item-item individual dalam daftar perencanaan audit untuk menyesuaikan antara pekerjaan auditor dengan keperluan klien mereka.
Daftar perencanaan audit dari APG termasuk item-item untuk menetapkan:
• Persetujuan penerimaan tugas
• Persetujuan personel audit terhadap perikatan audit
• Tingkat independensi
• Pengetahuan terhadap kesatuan usaha
• Taksiran kemampuan audit
• Surat Perikatan
• Taksiran risiko audit dan tingkat materialitas
• Taksiran risiko pengendalian
• Tindakan-tindakan melanggar hukum
• Tingkat kesalahan dan ketidakpatuhan
• Prosedur analitikal
• Strategi audit dan program audit
APG dapat membantu dalam memenuhi standar auditing, mempertimbangkan struktur pengendalian internal dalam sebuah laporan keuangan auditan. Standar auditing mengharuskan auditor mendapatkan pemahaman terhadap tiga elemen dari struktur pengendalian dan apakah kebijakan-kebijakan yang relevan, prosedur-prosedur dan catatan-catatan yang mendasar telah diterapkan pada perusahaan yang diaudit.
Daftar perencanaan berfungsi sebagai sebuah kontrol untuk memastikan bahwa semua bagian struktur pengendalian internal telah diperiksa, dan ini menjadi bagian pertama dari peralatan APG mengacu kepadanya.
Untuk itu, maka pada APG disediakan sebuah form berisikan daftar pertanyaan untuk mengetahui tingkat pengendalian internal pada perusahaan yang diaudit. Untuk penggunaan daftar pertanyaan tersebut secara efektif, maka auditor harus merecord tanggapan-tanggapan untuk pertanyaan-pertanyaan dan pekerjaan yang dilakukan untuk melihat bahwa prosedur-prosedur yang diidentifikasi merupakan kondisi aktual pada perusahaan yang diaudit. Dalam banyak kasus, sebuah referensi dari kertas kerja dimana sebuah hasil pemeriksaaan disimpan, akan menjadi kebutuhan penting dalam audit.
Setelah melengkapi daftar pertanyaan tersebut, berikutnya APG akan mendesain tahapan demi tahapan yang mendasari dalam pembuatan keputusan auditor seperti misalnya : taksiran risiko pengendalian pada tingkat maksimum, dan bagaimana mengurangi beberapa taksiran risiko. Dalam lembar kasus, auditor dapat mendesain pengujian-pengujian khusus dalam bagian pengendalian internal dari program untuk memberikan jaminan bahwa pengendalian dapat dipercaya untuk mengurangi risiko pengendalian dibawah tingkat maksimum sebagai fungsi aktual untuk asersi laporan keuangan tertentu.
Setelah dapat mengembangkan perencanaan untuk auditnya, keuntungan dari sebuah perikatan audit dari struktur pengendalian, dibuat sebuah taksiran risiko pengendalian, dan membuat beberapa analisis finansial pendahuluan. Berikutnya, auditor siap untuk mengerjakan pengaturan dari perencanaan audit, dan program pengujian substantive.
Program audit akan dijilid untuk setiap perikatan audit. Setiap perikatan tersebut berbeda dan meminta auditor untuk menggunakan keahlian professional mereka untuk memformulasikan tahapan-tahapan audit yang dibutuhkan untuk memberikan ukuran yang jelas, tingkat materialitas, dan tingkat objektivitas auditor sebagai factor-faktor yang perlu dipertimbangkan.
Program audit akan dijilid untuk setiap perikatan audit. Setiap perikatan tersebut berbeda dan meminta auditor untuk menggunakan keahlian professional mereka untuk memformulasikan tahapan-tahapan audit yang dibutuhkan untuk memberikan ukuran yang jelas, tingkat materialitas, dan tingkat objektivitas auditor sebagai faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan.
Hal tersebut sangat sulit dan waktu yang dikonsumsi untuk mengembangkan program audit sejak awal untuk masing-masing perikatan audit yang baru. Dan seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa APG dapat membantu pembuatan perancangan program audit sejak awal mula atau menyediakan langkah-langkah yang diusulkan untuk melakukan modifikasi terhadap kondisi-kondisi yang tertentu pada klien.
APG telah didesain untuk dimulai dengan lima asersi:
• Keberadaan atau keterjadian
• Kelengkapan
• Hak dan kewajiban
• Penilaian atau pengalokasian,
• Penyajian dan pengungkapan
Kegunaan lain dari APG adalah dapat digunakan untuk meninjau daftar pengungkapan dan tingkat kepatuhan terhadap perpajakan. Hal ini dapat membantu auditor memastikan bahwa laporan keuangan memenuhi semua unsur pengungkapan dan bahwa perusahaan klien telah mematuhi peraturan perpajakan yang berlaku.
4. Microsoft Excel
Software lain yang kemungkinan digunakan oleh Kantor Akuntan Publik dalam melakukan audit berbantuan computer adalah dengan menggunakan Microsoft Excel. Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa Microsoft Excel adalah program aplikasi spreadsheet yang paling populer saat ini.
Dengan kemampuannya membaca file database seperti DBF dan MDB, serta ditambah dengan dukungan fungsi-fungsi/formula-formula yang ada, maka dapat dikatakan bahwa Microsoft Excel juga dapat dijadikan sebagai software GAS.
Dengan memilih menggunakan Microsoft Excel sebagai GAS, maka berarti Kantor Akuntan Publik yang bersangkutan telah melakukan efisiensi biaya. Hal ini karena Microsoft Excel adalah program aplikasi yang cukup populer, yang dapat dipastikan ada pada setiap PC, terlepas dari apakah software tersebut asli atau bajakan.
Cara kerja audit berbantuan computer dengan Microsoft Excel sebenarnya hampir sama dengan software GAS yang lain, yaitu setelah file data diimpor atau disalin, maka selanjutnya dapat dilakukan pengolahan/manipulasi data sesuai keperluan audit yang dilakukan, tentunya dengan menginputkan formula-formula yang diperlukan.
Sekalipun demikian, tetap harus diakui bahwa penggunaan Microsoft Excel untuk audit tetap memiliki kekurangan dibandingkan dengan paket software yang memang dikhususkan untuk audit. Hal ini karena file yang telah diimpor atau disalin bukanlah jenis file read only sehingga sangat rentan kesalahan yang diakibatkan kesalahan pengetikan dan pengeditan yang dilakukan. Keterbatasan lainnya adalah keterbatasannya dalam mengenali dan membaca file sumber data, jika dibandingkan dengan program seperti ACL dan IDEA yang mempunyai kemampuan membaca file dalam banyak tife/ekstensi.
5. AUDIT-Easy
Adalah software yang digunakan untuk mengembangkan dan melakukan audit kepatuhan internal dan eksternal.
6. EZ-R Stats
Adalah software audit dengan beberapa kegunaan sebagai berikut:
• Mengidentifikasi duplikasi, selisih-selisih, jumlah populasi, klasifikasi dan stratifikasi data, univariate statistik, menentukan ukuran sample, persentil/quartile, histogram, dan lainnya.
• Menentukan prosedur-prosedur seperti misalnya test Hukum Benford (Benford’s Law) besaran nilai kumulatif moneter sampling, interval sampling,cross tabulasi,
• Dapat digunakan untuk melakukan beberapa pengujian statistik seperti Chi Square, pemeriksaan nomor kartu kredit, penyusunan nomor keatas dan kebawah.
• Menghasilkan grafik – histogram, garis trend, grafik pareto, dan lain-lain.
7. QSAQ
Software ini digunakan untuk menjadwalkan, mengelola analisis dan mengadakan internal audit, penilaian, pengujian dan pemeriksaan. Software ini didesain untuk mengorganisasikan, melangsungkan, mendokumentasikan, dan melaporkan dalam internal audit dan eksternal audit.
8. Random Audit Assistant
Adalah software untuk mendapatkan sample audit yang valid dari batasan audit yang telah ditetapkan.
9. RAT-STATS
Adalah paket software statistik yang didesain untuk membantu auditor dalam menetapkan sample audit secara acak dan mengevaluasi hasilnya.
10. Auto Audit
Software ini merupakan sistem informasi audit yang terintegrasi. Software ini memungkinkan departemen audit untuk menyelesaikan pekerjaan mereka dalam satu database. Dengan fasilitas untuk menaksir risiko, perencanaan, penjadwalan, kertas kerja, dan lainnya, maka menggunakan software ini merupakan pilihan yang tepat untuk mengelola sebuah departemen audit.
11. GRC on Demand
Adalah software dengan kegunaan untuk manajemen pengendalian keuangan, otomatisasi audit, risiko manajemen, teknologi informasi pemerintahan.
Lembaga / Universitas yang menggunakan ACL dalam kurikulum atau silabus :
Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Unair untuk mata kuliah Pengauditan PDE.
STIE Perbanas Surabaya untuk mata kuliah Pengauditan EDP Auditing.
Universitas Kristen Petra untuk mata kuliah Audit Sistem Informasi.
Website / Blog untuk mendownload software ACL dan tutorialnya :
www.theAkuntan.Com.
www.FinanceDownload.com.
http://www.picalo.org
www.djamrud.com
Sebenarnya tidak ada perbedaan konsep audit yang berlaku untuk system yang kompleks dan system manual, yang berbeda hanyalah metode-metode spesifik yang cocok dengan situasi system informasi akuntansi yang ada.
Pemahaman ini diperlukan dalam rangka mendapatkan pemahaman internal control yang baik agar dapat merencanakan audit dan menentukan sifat, timing dan perluasan pengujian yang akan dilakukan.
Dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) juga ditekankan perlunya pemahaman auditor dalam pemeriksaan sebuah sistem akuntansi berbasis komputer. Teknik ini dikenal dengan Teknik Audit Berbantuan Komputer (TABK) atau Computer Assisted Audit Techniques (CAATs).
Penggunaan TABK atau CAATs akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas auditor dalam melaksanakan audit dengan memanfaatkan segala kemampuan yang dimiliki oleh komputer. Untuk itu mengkombinasikan pemahaman mengenai pentingnya keahlian audit dengan pengetahuan sistem informasi berbasis komputer akan menghasilkan peningkatan yang sangat signifikan dalam proses audit sistem informasi. Persiapan auditor sistem informasi untuk memiliki keahlian tersebut harus dipersiapkan terlebih dahulu untuk dapat melakukan tugas sebuah audit sistem informasi.
Secara umum, Teknik Audit Berbantuan Komputer (TABK) atau Computer Assisted Audit Technique Tools (CAATT) adalah setiap penggunaan teknologi informasi sebagai alat bantu dalam kegiatan audit. TABK/CAATT dapat juga didefinisikan sebagai penggunaan perangkat dan teknik untuk mengaudit aplikasi komputer serta mengambil dan menganalisa data. Dengan kata lain TABK/CAAT merupakan perangkat dan teknik yang digunakan untuk menguji (baik secara langsung maupun tidak langsung) logika internal dari suatu aplikasi komputer yang digunakan untuk mengolah data.
Dalam praktek audit, terutama auditee yang menggunakan sistem informasi berbasis komputer (kayaknya hampir semua perusahaan besar sudah Computer-based IS), auditor yang bisa mengoperasikan TABK ini memang sangat diperlukan.
Apabila auditor memilih menggunakan teknik audit berbantuan komputer, maka auditor dapat memilih pendekatan yang digunakannya, yaitu apakah untuk melakukan pengujian aplikasi ataukah melakukan pengujian substantif.
Apabila auditor memilih untuk melakukan pengujian aplikasi, maka salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah:
1. Generalized Audit Software (GAS)
Adalah pendekatan yang menggunakan suatu perangkat lunak tertentu yang dimanfaatkan untuk menyeleksi, mengakses, mengorganisasikan data untuk kepentingan pengujian substantif. Pendekatan ini memungkinkan auditor untuk mengakses dan mengambil berbagai file data ke dalam computer untuk kemudian melakukan berbagai pengujian yang diperlukan. Pendekatan ini merupakan teknik yang paling populer karena relatif lebih mudah karena tidak diperlukan kemampuan teknik komputasi yang cukup mendalam. Apabila dilihat dari sisi proses pengujian logika internal suatu aplikasi, maka teknik test data, ITF, PS dan EAM merupakan teknik-teknik pengujian logika internal aplikasi secara langsung sedangkan teknik GAS merupakan suatu teknik pengujian tidak langsung. GAS disebut dengan teknik pengujian tidak langsung karena lebih cenderung untuk mengambil output dari aplikasi untuk kemudian diolah kembali untuk diuji apakah output itu sesuai dengan kriteria pengujian yang ditentukan. Makalah ini khusus membahas penggunaan TABK/CAAT berbasis GAS yang biasa digunakan oleh Kantor Akuntan Publik, terutama Kantor Akuntan Publik Besar yang memang sangat membutuhkan penggunaan teknik ini untuk mempercepat penyelesaian pekerjaan audit mereka.
FUNGSI GENERALIZED AUDIT SOFTWARE (GAS)
Secara umum, terdapat beberapa fungsi dari GAS, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Membuat perhitungan-perhitungan dan melakukan verifikasi atas perkalian dan penjumlahan.
2. Memeriksa catatan untuk mengetahui kualitas, kelengkapan, konsistensi dan ketepatannya.
3. Mengikhtisarkan atau mengurutkan data dan melakukan analisis data, berikut mengidentifikasi urutan-urutan yang hilang
4. Memilih sampel audit secara valid.
5. Mencetak permintaan konfirmasi.
6. Membandingkan data yang diperoleh melalui prosedur audit lainnya dengan catatan perusahaan. Dapat pula dibandingkan data-data pada file yang terpisah.
7. Membuat stratifikasi data.
8. Membuat analisa-analisa statistik.
9. Pembuatan grafik dan pivot tables.
SOFTWARE-SOFTWARE GAS YANG BIASA DIGUNAKAN KAP
Ada banyak software GAS yang saat ini beredar dan digunakan oleh Kantor-Kantor Akuntan Publik di seluruh dunia. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:
1. ACL (Audit Command Language)
ACL for Windows dirancang khusus untuk menganalisa data dan menghasilkan laporan audit baik untuk pengguna biasa (common/nontechnical users) maupun pengguna ahli (expert users). Dengan menggunakan ACL, pekerjaan auditing akan jauh lebih cepat daripada proses auditing secara manual yang memerlukan waktu sampai berjam-jam bahkan sampai berhari-hari.
Dengan beberapa kemampuan ACL, analisis data akan lebih efisien dan lebih meyakinkan. Berikut ini beberapa kemampuan ACL:
• Mudah dalam penggunaan.
ACL for Windows, sesuai dengan namanya, adalah perangkat lunak (software) berbasis Windows, di mana sistem operasi Windows telah dikenal bersifat mudah digunakan (user friendly). Kemudahan ini ditunjukkan dengan pengguna hanya meng-click pada gambar-gambar tertentu (icon) untuk melakukan suatu pekerjaan, dan didukung pula dengan fasilitas Wizard untuk mendefinisikan data yang akan dianalisis.
• Built-in audit dan analisis data secara fungsional.
ACL for Windows didukung dengan kemampuan analisis untuk keperluan audit/pemeriksaan seperti: analisis statistik, menghitung total, stratifikasi, sortir, index, dan lain-lain.
• Kemampuan menangani ukuran file yang tidak terbatas.
ACL for Windows mampu menangani berbagai jenis file dengan ukuran file yang tidak terbatas. Kemampuan untuk membaca berbagai macam tipe data. ACL for Windows dapat membaca file yang berasal dari berbagai format antara lain: Flat sequential, dBase (DBF), Text (TXT), Delimited, Print, ODBC (Microsoft Access database, Oracle), Tape ( ½ inch 9 - track tapes, IBM 3480 cartridges, 8 mm tape dan 4 mm DAT).
• Kemampuan mengekspor hasil audit
ACL mempunyai kemampuan untuk mengekspor hasil audit ke berbagai macam format data antara lain: Plain Text (TXT), dBase III (DBF), Delimit (DEL), Excel (XLS), Lotus (WKS), Word (DOC), dan WordPerfect (WP).
• Pembuatan Laporan berkualitas tinggi.
ACL for Windows memiliki fasilitas lengkap untuk keperluan pembuatan laporan.
ACL for Windows dapat bekerja menggunakan database relasional modern, di samping tentu saja menggunakan sistem penyimpanan data secara tradisional. Pada sistem legacy, untuk membuat dan memproses data tanpa menggunakan program, sedangkan ACL for Windows memiliki kemampuan untuk mengakses data.
ACL for Windows dapat mengakses data dalam berbagai macam format dan pada berbagai macam tipe media penyimpanan. ACL for Windows mampu menguji output atas suatu aplikasi di mana data yang digunakan kurang meyakinkan, atau mungkin aplikasi tersebut tidak berjalan dengan benar. ACL for Windows dapat digunakan untuk keperluan View, Explore, dan menganalisa seluruh data serta membuat laporan atas hasil-hasilnya.
Sebelum melakukan download atas data, perlu dipersiapkan dulu datanya. Jika seluruh data ada pada file tertentu dan mempunyai format tertentu yang dapat dibaca langsung oleh ACL for Windows, maka transfer bisa langsung dilakukan dalam bentuk native state ke PC. Mungkin tidak perlu mentransfer seluruh data untuk file yang berukuran besar.
File output report dalam bentuk elektronik bisa diakses oleh ACL for Windows, karena hampir semua software komputer mampu menghasilkan laporan (report). ACL for Windows mampu membaca informasi yang disimpan dalam bentuk laporan tercetak. Aplikasi ini sangat berguna ketika Anda ingin mengakses data yang tersimpan dalam format database yang rumit.
Langkah pertama dalam memproses laporan sebagai data adalah dengan cara melakukan capture informasi ke dalam disket. Dalam kebanyakan lingkungan (environment) komputer mini dan mainframe, hal tersebut bisa langsung dilakukan, karena umumnya file akan di-spooled sebelum dicetak. Anda tidak perlu mencetak file terlebih dahulu, cukup meng-copy spool file-nya sebelum dihapus oleh sistem. Jika perlu men- download spooled report file, sekali lagi tanyakan kepada departemen komputer untuk meng-copy-kan file yang diperlukan ke disket, untuk selanjutnya dilakukan download atas file tersebut.
Fitur dan Kemampuan ACL Software Tools
1. Universal Data Access, yaitu dapat mengakses data dari hampir semua jenis database yang ada (DBF, XLS, Text File, report file, Oracle, SQL, DB2, AS/400 FDF, COBOL, dsb) dan semua platform (PC, minicomputer, dan mainframe).
2. Jumlah Data Besar, yaitu kemampuan dalam mengakses dan memproses data dalam jumlah yang sangat besar (hingga ratusan juta record)
3. Kecepatan Waktu Proses, kemampuannya untuk memproses dalam waktu yang singkat walapun data yang diproses dalam jumlah yang besar
4. Integritas Data, dengan kemampuan mengakses database 100% (tanpa metode sampling) serta data yang bersifat ‘Read Only’ yang dapat menjamin orisinalitas, keamanan & integritas data untuk pengolahan menjadi informasi yang bermanfaat bagi user & manajemen.
5. Automasi, pembuatan aplikasi audit yang sangat cepat dan mudah untuk melakukan Automasi Analisis Data untuk efisiensi proses kerja.
6. Multi File Process, dapat digunakan untuk menangani beberapa file sekaligus, tanpa mengganggu operasional Teknologi Informasi yang dijalankan oleh Perusahaan.
7. Log File Navigation, dilengkapi dengan log file untuk pencatatan proses analisis yang telah dilakukan sehingga menghasilkan suatu Audit Trail yang komprehensif.
8. Fungsi Analisis yang Lengkap, dilengkapi fungsi-fungsi analisis yang sangat lengkap yang dapat dengan mudah dikombinasikan dalam menghasilkan temuan-temuan yang tidak pernah terkirakan sebelumnya.
9. Pelaporan yang Handal, kemudahan untuk merancang laporan yang handal sarat informasi yang bermanfaat serta dapat dikirimkan secara otomatis via email atau integrasi ke dalam software aplikasi ‘Crystal Report’
10. IT Audit, kemudahan dalam menguji integritas data dan menganalisis data yang ada di dalam database ataupun menganalisis user-user yang telah masuk kedalam suatu jaringan/network.
Manfaat Menggunakan ACL Software Tools
Dapat membantu dalam mengAkses data baik langsung (Direct) kedalam system jaringan ataupun InDirect (tidak langsung) melalui media lain seperti softcopy dalam bentuk Teks file / Report.
Menempatkan kesalahan dan potensial “fraud”sebagai pembanding dan menganlisa file-file menurut aturan-aturan yang ada.
Mengidentifikasi kecenderungan/gejala-gejala, dapat juga menunjukan dengan tepat/sasaran pengecualian data dan menyoroti potensial area yang menjadi perhatian.
Mengidentifikasi proses perhitungan kembali dan proses Verifikasi yang benar
Mengidentifikasi persoalan sistem pengawasan dan memastikan terpenuhinya permohonan dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan
Aging dan menganalisa Account Receivable/Payable atau beberapa transaksi lain dengan menggunakan basis waktu yang sensitive
Memulihkan biaya atau pendapatan yang hilang dengan pengujian data pada data-data duplikasi pembayaran, menguji data-data nomor Invoice/Faktur yang hilang atau pelayanan yang tidak tertagih.
Menguji terhadap hubungan antara Authorisasi karyawan dengan supplier.
Melakukan proses Data Cleansing & Data Matching atau pembersihan data dari data-data duplikasi terutama dari kesalahan pengetikan oleh End-User
Dapat melaksanakan tugas pengawasan dan pemeriksaaan dengan lebih fokus, cepat, efisien dan efektif dengan lingkup yang lebih luas dan analisa lebih mendalam. Mengidentifikasi penyimpangan (Fraud Detection) dapat dilakukan dengan cepat dan akurat. Sehingga memiliki waktu lebih banyak alam menganalisa data dan pembuktian.
2. IDEA (Interactive Data Analysis Software)
Merupakan software audit yang dapat digunakan untuk membuat rekonsiliasi, investigasi kecurangan, internal/operational audit, pemindahan file, mempersiapkan laporan manajemen dan analisis-analisis lainnya, termasuk menelusuri security log.
IDEA adalah software yang powerful dan mudah dioperasikan untuk membantu akunting dan professional keuangan meningkatkan keahlian auditing, mendeteksi kecurangan, dan memenuhi dokumen-dokumen standar. Software ini memungkinkan kita untuk mengimpor data dengan cepat, menyertakan, menganalisa, mengambil sample dan mengekstrak data dari berbagai macam sumber, termasuk laporan yang dicetak dari sebuah file.
Didesain oleh Akuntan untuk Akuntan, IDEA menawarkan sebuah tampilan antar muka yang intuitif termasuk fungsi point dan klik, menu bantuan, toturial dan multi tampilan. Dengan kemampuan ukuran file yang tak terbatas, IDEA dapat mengakses dan menganalisa data yang berukuran besar dalam beberapa detik saja, membebaskan anda untuk menganjurkan manajemen dalam proyek tambahan dan memberikan analisa yang mendalam. Menurut survey, lebih separo dari 100 Kantor Akuntan Publik Besar di Amerika Serikat menggunakan IDEA untuk melakukan analisis data yang diperlukan pada saat melakukan audit.
IDEA adalah sebuah software audit yang dapat membaca data asli yang telah diimpor. Field baru dapat dibuat, walaupun data asli tidak pernah diubah. Tidak seperti Microsoft Access dan Microsoft Excel, yang memungkinkan pengguna untuk melakukan manipulasi data yang telah diimpor yang dapat mengakibatkan kerusakan data akibat pengeditan ataupun penghapusan data.
IDEA juga bekerja secara otomatis memberikan satu macam dari masukan file control keseluruhan dan statistic, yang dapat diperiksa setiap kali file tersebut digunakan. Banyaknya fitur control memberikan jaminan penggunaan sebagai kesatuan dari data yang dianalisis. Kontrol-kontrol tersebut dapat membuat formulir yang cepat, mudah untuk menghasilkan control menyeluruh menghitung record, jumlah uang ataupun total item dari field yang diseleksi ataupun seluruh file, atau beberapa jumlah yang dipertimbangkan oleh auditor.
Penambahan pengeditan field-field dapat ditambahkan pada database untuk komentar, untuk mencocokkan item-item atau untuk mengoreksi data. Anda dapat menambahkan field virtual untuk membuktikan perhitungan-perhitungan dalam sebuah database, melakukan perhitungan-perhitungan baru dan rasio-rasio dari field-field yang ada tanpa database atau untuk mengkonversikan data dari sebuah tife menjadi tife lainnya. Field-field yang dapat diedit, berupa ruang kosong utuk memasukkan komentar atau pernyataan-pernyataan yang disertakan dengan field virtual.
Statistik dapat dihasilkan dari keseluruhan nomor dan field tanggal tanpa sebuah database. Untuk setiap field numeric, nilai-nilainya seperti nilai bersih, maksimum, minimum, dan nilai rata-rata seperti jumlah debet, kredit dan zero value item yang diberikan. Untuk setiap field tanggal, statistic memberikan informasi seperti tanggal terakhir dan harian dan analisis bulanan dari jumlah setiap transaksi-transaksi yang terjadi.
Kegunaan lain bagi kontrol audit adalah IDEA secara otomatis akan menghasilkan catatan sejarah yang merekam setiap proses yang dilaksanakan oleh auditor, menunjukkan jejak audit (audit trail) atau catatan seluruh operasi yang dilakukan pada sebuah database. Informasi ini kemudian disajikan dalam sebuah daftar yang dapat dikembangkan. Sejak catatan sejarah merekam seluruh proses yang dijalankan pada masa lalu dalam sebuah data, pengguna dapat mengidentifikasi bagian-bagian dari informasi yang didapat dari data asli. Setiap pengujian atau fungsi yang dijalankan akan secara otomatis menghasilkan script/kode pemrograman, yang kemudian dapat dicopy dalam IDEAScript editor (IDEAScript adalah sebuah bahasa pemrograman yang kompatibel dengan visual basic). Kode ini dberikan kepada pengguna dengan sebuah record yang dapat dicopy secara mekanis dalam kertas kerja audit.
3. APG (Audit Program Generator)
Waktu, biaya, tenaga, tanggal penyelesaian, adalah semua elemen yang harus diperhitungkan ketika sebuah tim audit membuat perencanaan audit. Langkah pertama dalam perencanaan audit tersebut akan dipersiapkan dalam sebuah daftar perencanaan audit.
APG memungkinkan tim audit mempersiapkan daftar perencanaan audit mereka. APG memungkinkan tim audit untuk menambah, menghapus atau melakukan modifikasi item-item individual dalam daftar perencanaan audit untuk menyesuaikan antara pekerjaan auditor dengan keperluan klien mereka.
Daftar perencanaan audit dari APG termasuk item-item untuk menetapkan:
• Persetujuan penerimaan tugas
• Persetujuan personel audit terhadap perikatan audit
• Tingkat independensi
• Pengetahuan terhadap kesatuan usaha
• Taksiran kemampuan audit
• Surat Perikatan
• Taksiran risiko audit dan tingkat materialitas
• Taksiran risiko pengendalian
• Tindakan-tindakan melanggar hukum
• Tingkat kesalahan dan ketidakpatuhan
• Prosedur analitikal
• Strategi audit dan program audit
APG dapat membantu dalam memenuhi standar auditing, mempertimbangkan struktur pengendalian internal dalam sebuah laporan keuangan auditan. Standar auditing mengharuskan auditor mendapatkan pemahaman terhadap tiga elemen dari struktur pengendalian dan apakah kebijakan-kebijakan yang relevan, prosedur-prosedur dan catatan-catatan yang mendasar telah diterapkan pada perusahaan yang diaudit.
Daftar perencanaan berfungsi sebagai sebuah kontrol untuk memastikan bahwa semua bagian struktur pengendalian internal telah diperiksa, dan ini menjadi bagian pertama dari peralatan APG mengacu kepadanya.
Untuk itu, maka pada APG disediakan sebuah form berisikan daftar pertanyaan untuk mengetahui tingkat pengendalian internal pada perusahaan yang diaudit. Untuk penggunaan daftar pertanyaan tersebut secara efektif, maka auditor harus merecord tanggapan-tanggapan untuk pertanyaan-pertanyaan dan pekerjaan yang dilakukan untuk melihat bahwa prosedur-prosedur yang diidentifikasi merupakan kondisi aktual pada perusahaan yang diaudit. Dalam banyak kasus, sebuah referensi dari kertas kerja dimana sebuah hasil pemeriksaaan disimpan, akan menjadi kebutuhan penting dalam audit.
Setelah melengkapi daftar pertanyaan tersebut, berikutnya APG akan mendesain tahapan demi tahapan yang mendasari dalam pembuatan keputusan auditor seperti misalnya : taksiran risiko pengendalian pada tingkat maksimum, dan bagaimana mengurangi beberapa taksiran risiko. Dalam lembar kasus, auditor dapat mendesain pengujian-pengujian khusus dalam bagian pengendalian internal dari program untuk memberikan jaminan bahwa pengendalian dapat dipercaya untuk mengurangi risiko pengendalian dibawah tingkat maksimum sebagai fungsi aktual untuk asersi laporan keuangan tertentu.
Setelah dapat mengembangkan perencanaan untuk auditnya, keuntungan dari sebuah perikatan audit dari struktur pengendalian, dibuat sebuah taksiran risiko pengendalian, dan membuat beberapa analisis finansial pendahuluan. Berikutnya, auditor siap untuk mengerjakan pengaturan dari perencanaan audit, dan program pengujian substantive.
Program audit akan dijilid untuk setiap perikatan audit. Setiap perikatan tersebut berbeda dan meminta auditor untuk menggunakan keahlian professional mereka untuk memformulasikan tahapan-tahapan audit yang dibutuhkan untuk memberikan ukuran yang jelas, tingkat materialitas, dan tingkat objektivitas auditor sebagai factor-faktor yang perlu dipertimbangkan.
Program audit akan dijilid untuk setiap perikatan audit. Setiap perikatan tersebut berbeda dan meminta auditor untuk menggunakan keahlian professional mereka untuk memformulasikan tahapan-tahapan audit yang dibutuhkan untuk memberikan ukuran yang jelas, tingkat materialitas, dan tingkat objektivitas auditor sebagai faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan.
Hal tersebut sangat sulit dan waktu yang dikonsumsi untuk mengembangkan program audit sejak awal untuk masing-masing perikatan audit yang baru. Dan seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa APG dapat membantu pembuatan perancangan program audit sejak awal mula atau menyediakan langkah-langkah yang diusulkan untuk melakukan modifikasi terhadap kondisi-kondisi yang tertentu pada klien.
APG telah didesain untuk dimulai dengan lima asersi:
• Keberadaan atau keterjadian
• Kelengkapan
• Hak dan kewajiban
• Penilaian atau pengalokasian,
• Penyajian dan pengungkapan
Kegunaan lain dari APG adalah dapat digunakan untuk meninjau daftar pengungkapan dan tingkat kepatuhan terhadap perpajakan. Hal ini dapat membantu auditor memastikan bahwa laporan keuangan memenuhi semua unsur pengungkapan dan bahwa perusahaan klien telah mematuhi peraturan perpajakan yang berlaku.
4. Microsoft Excel
Software lain yang kemungkinan digunakan oleh Kantor Akuntan Publik dalam melakukan audit berbantuan computer adalah dengan menggunakan Microsoft Excel. Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa Microsoft Excel adalah program aplikasi spreadsheet yang paling populer saat ini.
Dengan kemampuannya membaca file database seperti DBF dan MDB, serta ditambah dengan dukungan fungsi-fungsi/formula-formula yang ada, maka dapat dikatakan bahwa Microsoft Excel juga dapat dijadikan sebagai software GAS.
Dengan memilih menggunakan Microsoft Excel sebagai GAS, maka berarti Kantor Akuntan Publik yang bersangkutan telah melakukan efisiensi biaya. Hal ini karena Microsoft Excel adalah program aplikasi yang cukup populer, yang dapat dipastikan ada pada setiap PC, terlepas dari apakah software tersebut asli atau bajakan.
Cara kerja audit berbantuan computer dengan Microsoft Excel sebenarnya hampir sama dengan software GAS yang lain, yaitu setelah file data diimpor atau disalin, maka selanjutnya dapat dilakukan pengolahan/manipulasi data sesuai keperluan audit yang dilakukan, tentunya dengan menginputkan formula-formula yang diperlukan.
Sekalipun demikian, tetap harus diakui bahwa penggunaan Microsoft Excel untuk audit tetap memiliki kekurangan dibandingkan dengan paket software yang memang dikhususkan untuk audit. Hal ini karena file yang telah diimpor atau disalin bukanlah jenis file read only sehingga sangat rentan kesalahan yang diakibatkan kesalahan pengetikan dan pengeditan yang dilakukan. Keterbatasan lainnya adalah keterbatasannya dalam mengenali dan membaca file sumber data, jika dibandingkan dengan program seperti ACL dan IDEA yang mempunyai kemampuan membaca file dalam banyak tife/ekstensi.
5. AUDIT-Easy
Adalah software yang digunakan untuk mengembangkan dan melakukan audit kepatuhan internal dan eksternal.
6. EZ-R Stats
Adalah software audit dengan beberapa kegunaan sebagai berikut:
• Mengidentifikasi duplikasi, selisih-selisih, jumlah populasi, klasifikasi dan stratifikasi data, univariate statistik, menentukan ukuran sample, persentil/quartile, histogram, dan lainnya.
• Menentukan prosedur-prosedur seperti misalnya test Hukum Benford (Benford’s Law) besaran nilai kumulatif moneter sampling, interval sampling,cross tabulasi,
• Dapat digunakan untuk melakukan beberapa pengujian statistik seperti Chi Square, pemeriksaan nomor kartu kredit, penyusunan nomor keatas dan kebawah.
• Menghasilkan grafik – histogram, garis trend, grafik pareto, dan lain-lain.
7. QSAQ
Software ini digunakan untuk menjadwalkan, mengelola analisis dan mengadakan internal audit, penilaian, pengujian dan pemeriksaan. Software ini didesain untuk mengorganisasikan, melangsungkan, mendokumentasikan, dan melaporkan dalam internal audit dan eksternal audit.
8. Random Audit Assistant
Adalah software untuk mendapatkan sample audit yang valid dari batasan audit yang telah ditetapkan.
9. RAT-STATS
Adalah paket software statistik yang didesain untuk membantu auditor dalam menetapkan sample audit secara acak dan mengevaluasi hasilnya.
10. Auto Audit
Software ini merupakan sistem informasi audit yang terintegrasi. Software ini memungkinkan departemen audit untuk menyelesaikan pekerjaan mereka dalam satu database. Dengan fasilitas untuk menaksir risiko, perencanaan, penjadwalan, kertas kerja, dan lainnya, maka menggunakan software ini merupakan pilihan yang tepat untuk mengelola sebuah departemen audit.
11. GRC on Demand
Adalah software dengan kegunaan untuk manajemen pengendalian keuangan, otomatisasi audit, risiko manajemen, teknologi informasi pemerintahan.
Lembaga / Universitas yang menggunakan ACL dalam kurikulum atau silabus :
Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Unair untuk mata kuliah Pengauditan PDE.
STIE Perbanas Surabaya untuk mata kuliah Pengauditan EDP Auditing.
Universitas Kristen Petra untuk mata kuliah Audit Sistem Informasi.
Website / Blog untuk mendownload software ACL dan tutorialnya :
www.theAkuntan.Com.
www.FinanceDownload.com.
http://www.picalo.org
www.djamrud.com
Rabu, 10 Desember 2008
Senin, 03 November 2008
Selasa, 28 Oktober 2008
Sweet Memory
Cintamu kepadaku bagaikan sinar rembulan yang menyinari bumi...
Seperti air yang menyejukkan hati...
Engkau adalah anugerah yang terindah yang ku miliki...
Bidadariku...
Semoga kita dapat arungi hidup ini...
Selalu bersama...
Selama-lamanya...
Berbekal keluarga kita yang SAMARA...
Dan Cinta yang hakiki...
Amin....
Seperti air yang menyejukkan hati...
Engkau adalah anugerah yang terindah yang ku miliki...
Bidadariku...
Semoga kita dapat arungi hidup ini...
Selalu bersama...
Selama-lamanya...
Berbekal keluarga kita yang SAMARA...
Dan Cinta yang hakiki...
Amin....
Langganan:
Postingan (Atom)

